Konsep Normal-Abnormal dalam Masyarakat
DANIELLA MEIRA GHEA ANGGARANI
12514525
2PA07
KESEHATAN MENTAL#
PENDAHULUAN
Agak sulit menjelaskan secara tepat apa yang
dimaksud dengan normal dan abnormal tentang perilaku. Penyebabnya adalah sulit
menemukan model orang yang ideal atau sempurna dan tidak ada batas yang tegas
mengenai perilaku normal dan abnormal. Diperlukan sejumlah patokan atau ukuran
untuk membedakannya. Pribadi yang normal pada umumnya memiliki mental yang
sehat, sedangkan pribadi yang abnormal biasanya memiliki mental yang tidak
sehat. Namun demikian, pada hakekatnya konsep mengenai normalitas dan abnormalitas
sangat samar-samar batasnya. Sebab pola kebiasaan dan sikap hidup yang
dirasakan normal oleh suatu kelompok tertentu, bisa dianggap abnormal oleh
kelompok lainnya. Akan tetapi apabila satu tingkah laku itu begitu mencolok dan
sangat berbeda dengan tingkah laku umum, maka kita akan menyebutnya sebagai
abnormal (Kartini Kartono, 2000 : 6-7). Salah satu kriteria yang digunakan
untuk menentukan apakah suatu perilaku dikatakan abnormal atau tidak adalah
dengan memperhatikan apakah perilaku tersebut menyimpang dari standar tingkah
laku atau norma sosial yang dapat diterima.
Dilihat dari setiap sudut pandang, konsep normalitas-abnormalitas adalah konsep yang bersifat relatif. Penyimpangan dari norma apa pun yang diterima seseorang mungkin begitu kecil atau mungkin begitu mencolok sehingga kelihatan jelas sifat abnormalnya. Tetapi karena tidak ada dikatomi yang tegas, maka normalitas dan abnormalitas sulit dibedakan. Kebanyakan orang menerima bahwa penyesuaian diri yang baik sangat serupa dengan normalitas dan ketidakmampuan menyesuaikan diri sama dengan abnormalitas. Konsep-konsep ini berhubungan erat, tetapi artinya berbeda (Yustinus Semium, 2006 :56).
Dilihat dari setiap sudut pandang, konsep normalitas-abnormalitas adalah konsep yang bersifat relatif. Penyimpangan dari norma apa pun yang diterima seseorang mungkin begitu kecil atau mungkin begitu mencolok sehingga kelihatan jelas sifat abnormalnya. Tetapi karena tidak ada dikatomi yang tegas, maka normalitas dan abnormalitas sulit dibedakan. Kebanyakan orang menerima bahwa penyesuaian diri yang baik sangat serupa dengan normalitas dan ketidakmampuan menyesuaikan diri sama dengan abnormalitas. Konsep-konsep ini berhubungan erat, tetapi artinya berbeda (Yustinus Semium, 2006 :56).
Gangguan Mental dapat dikatakan sebagai
perilaku abnormal atau perilaku yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku
dimasyarakat, perilaku tersebut baik yang berupa pikiran, perasaan maupun
tindakan. Stress, depresi dan alkoholik tergolong sebagai gangguan mental
karena adanya penyimpangan, hal ini dapat disimpulkan bahwa gangguan mental
memiliki titik kunci yaitu menurunnya fungsi mental dan berpengaruhnya pada
ketidak wajaran Adapun gangguan mental yang dijelaskan.
TEORI
Sehat adalah keadaan berupa kesejahteraan
fisik, mental, sosial secara penuh dan bukan semata-mata berupa absennya
penyakit atau keadaan lemah tertentu (World Health Organization-WHO).
Menurut Dr. Jalaluddin dalam bukunya “Psikologi Agama” bahwa: “kesehatan mental
merupakan suatu kondisi batin yang senantiasa berada dalam keadaan tenang, aman
dan tentram, dan upaya untuk menemukan ketenangan batin dapat dilakukan antara
lain melalui penyesuaian diri secara resignasi (penyerahan diri sepenuhnya
kepada Tuhan)”. Sedangkan menurut paham ilmu kedokteran, kesehatan mental
merupakan suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan
emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras
dengan keadaan orang lain. Bisa disimpulkan bahwa normalitas sebagai keadaan
sehat, yang secara umum ditandai dengan keefetifan dalam menyesuaikan diri,
yakni menjalankan tuntutan hidup sehari-hari, sehingga menimbulkan perasaan
puas dan bahagia.
Perilaku abnormal adalah kondisi emosional seperti
kecemasan dan depresi yang tidak sesuai dengan situasinya. Perilaku abnormal
terdiri dari dua kata yaitu perilaku dan abnormal, perilaku menurut kamus bahasa
Indonesia adalah tingkah laku seorang manusia/ sikap seorang manusia,
sedangkan abnormal dapat didefinisikan sebagai hal yang jarang terjadi (seperti
kidal) atau penyimpangan dari kondisi rata-rata (seperti tinggi badan yang
ekstrem). Abnormalitas umumnya ditentukan berdasarkan munculnya beberapa
karakteristik sekaligus dan definisi terbaik untuk ini menggunakan beberapa
kareakteristik kejarangan statistik, pelanggaran
norma, distress pribadi, ketidakmampuan atau
disfungi, dan repons yang tidak diharapkan (unexpectedness).
Sumber lain mengatakan perilaku abnormal adalah perilaku
yang menyimpang dari norma sosial. Karena
setiap masyarakat mempunyai patokan atau norma tertentu, untuk perilaku yang
sesuai dengan norma maka dapat diterima, sedangkan perilaku yang menyimpang
secara mencolok dari norma ini dianggap abnormal sehingga perilaku yang dianggap
normal oleh suatu masyarakat mungkin dianggap tidak normal oleh masyarakat
lain, jadi gagasan tentang kenormalan atau keabnormalan berbeda dari satu masyarakat lain
dari waktu ke waktu dalam masyarakat yang sama.
Perilaku abnormal yang terjadi pada kondisi emosional
biasa terjadi kapan saja dalam kehidupan manusia, mereka kadang-kadang bisa
terjadi dan sudah terjadi dalam kehidupan orang lain. Sebuah masalah emosional
dapat menyebabkan seseorang mengalami gangguan secara mental dan fisik.
BEBERAPA CIRI ORANG YANG SEHAT-NORMAL
- Sikap terhadap diri sendiri : memiliki penilaian yang realistik terhadap berbagai kelebihan dan kekurangan.
- Persepsi terhadap realitas : memiliki peandangan yang realistis terhadap diri dan terhadap dunia, orang maupun benda di sekelilingnya.
- Integrasi : berkepribadian utuh, bebas dari konflik-konflik batin yang melumpuhkan, memiliki toleransi yang baik terhadap stres.
- Kompetensi : memiliki kompetensi-kompetensi fisik, intelektual, emosional, dan social yang memadai untuk mengatasi berbagai problem hidup.
- Otonomi : memiliki kemandirian, tanggung jawab dan penentuan diri yang memadai disertai kemampuan cukup untuk membebaskan diri dari aneka pengaruh sosial.
- Pertumbuhan aktualisasi diri : semakin berkembang kemampuan-kemampuannya dan mencapai pemenuhan diri sebagai pribadi.
KRITERIA ABNORMALITAS
- Penyimpangan dari norma statistik : abnormal adalah setiap hal yang luar biasa, tidak lazim, atau secara harfiah yang menyimpang dari norma. hampir setiap kepribadian tersebar dalam populasi orang mengikuti kurva normal yang bentuknya mirip genta/lonceng, di mana dua pertiga dari jumlah kasus terletak pada sepertiga dari keseluruhan bidang yang mewakili populasi tersebut. kriteria ini cocok diterapkan untuk sifat kepribadian tertentu seperti sifat agresif, di mana makin jauh dari nilai rata-rata baik ke arah kiri maupun kanan kita temukan orang-orang dengan tingkat agresifitas ekstrem (rendah atau tinggi), yang dua-duanya berkonotasi negatif. sebaliknya kriteria ini tidak cocok untuk sifat-sifat kepribadian lain, seperti intelegensi sebab kendati sama-sama abnormal namun genius (ektrem tinggi) jelas mempunyai nilai positif, sedangkan sifat idiot (ekstrem rendah) punya nilai negatif.
- Penyimpangan dari norma sosial : menurut kriteria ini, abnormal diartikan sebagai non konformitas, yaitu sifat tidak patuh atau tidak sejalan dengan norma sosial. Inilah yang disebut relativisme budaya bahwa apa saja yang umum atau lazim adalah normal. Kendati tidak selalu sepakat, namun patokan semacam ini sering berlaku dalam masyarakat. Patokan ini didasarkan pada dua pengandaian yang patut diragukan kebenarannya. Pertama adalah apa yang dinilai tinggi dan dilakukan oleh mayoritas selalu baik dan benar. Kedua bahwa perbuatan individu yang sejalan dengan norma-norma masyarakat yang berlaku selalu menunjang kepentingan individu itu sendiri maupun kepentingan kelompok atau masyarakat.
- Gejala “Salah Suai” (maladjustment) : abnormalitas dipandang sebagai ketidakefektifan individu dalam menghadapi, menanggapi, menangani atau melaksanakan tuntutan-tuntutan dari lingkungan fisik dan sosialnya maupun yang bersumber dari kebutuhannya sendiri. Kriteria semacam ini jelas bersifat negatif, artinya tidak memperhitungkan fakta bahwa seorang individu dapat berpenyesuaian baik (well adjusted) tanpa memanfaatkan dan mengembangkan kemampuan-kemampuannya. Tidak sedikit orang yang secara umum disebut "berhasil" dalam menjalani hidup ini, dalam arti hidup "lumrah baik" namun sebagai pribadi tidak pernah berkembang secara maksimal optimal.
- Tekanan Batin : abnormalitas dipandang sebagai perasaan-perasaan cemas, depresi atau sedih atau perasaan bersalah yang mendalam. Namun, ini bukan patokan yang baik untuk membedakan perilaku normal dari yang abnormal atau sebaliknya. Tekanan batin yang kronik seperti tak berkesudahan mungkin memang merupakan indikasi bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Sebaliknya sangat normal bila orang merasa sedih atau tertekan manakala mengalami musibah, kekecewaan dan ketidakadilan. Ketabahan memang merupakan suatu indikator kemasakan menghadpi bencana, namun dalam keadaan biasa wajar misalnya, akan terkesan aneh apabila seseorang merasa gembira menghadapi kematian orang yang terkasih.
- Ketidakmatangan : seseorang dikatakan abnormal apabila perilakunya tidak sesuai dengan tingkat usianya, dan tidak sesuai dengan situasinya. misalnya sering sulit menemukan patokan tentang kepantasan dan kematangan. Colemen, Butcher dan Crason (1980) dengan tetap menyadari kekurangannya akhirnya menggunakan dua kriteria yaitu abnormalitas sebagai penyimpangan dari norma-norma masyarakat dan abnormalitas dalam arti apa saja yang bersifat maladaptif. Yang terakhir berati apa saja yang tidak menunjang kesejahteraan sang individu sehingga pada akhirnya juga tidak menunjang kemaslahatan masyarakat. Kesejahteraaan atau kemaslahatan masyarakat meliputi baik kemampuan bertahan maupun perkembangan-pencapaian pemenuhan diri atau aktualisasi dari berbagai kemampuan yang dimiliki.
ISTILAH TENTANG PERILAKU ABNORMAL
- Perilaku abnormal digunakan untuk menggambarkan tampilan kepribadian dalam (inner personality) atau perilaku luar (out behavior) atau keduanya. Perilaku abnormal adalah perilaku spesifik seperti fobia atau pola gangguan seperti skizofrenia. Demikian juga dengan masalah kronik atau yang berlangsung lama, seperti introsikasi obat-obat dengan simtom yang akut atau temporer.
- Perilaku maladaptif merupakan pemahanam abnormal yang bersifat konseptual, yang memasukkan setiap perilaku yang memiliki konsekuensi yang tidak diharapkan. Tidak hanya perilaku psikosis, atau neurotis, melainkan juga perilaku bisnis yang tidak etis, prasangka rasional, alienasi (keterasingan), dan apatis.
- Gangguan mental digunakan untuk pola perilaku abnormal yang meliputi rentang yang lebar, dari yang ringan sampai yang berat.
- Psikopatologi artinya sama atau sebagai kata lain dari perilaku abnormal, psikologi abnormal, atau gangguan mental.
- Penyakit jiwa digunakan sebagai kata lain dari gangguan mental. Namun penggunaannya saat ini terbatas pada gangguan yang berhubungan dengan patologi otak atau disorganisasi kepribadian yang berat.
- Gangguan perilaku digunakan secara khusus untuk gangguan yang berasal dari kegagalan belajar, baik gagal memperlajari kompetensi yang dibutuhkan maupun gagal dalam memperlajari pola penanggulangan masalah yang maladaptif.
- Penyakit mental ini menunjuk gangguan-gangguan yang berkaitan dengan patologi otak.
- Ketidakwarasan (insanity) merupakan istilah hukum yang mengidentifikasikan bahwa individu secara mental tidak mampu untuk mengelola masalah-masalahnya atau melihat konsekuensi-konsekuensi dari tindakan-tindakannya. Istilah ini menunjuk pada gangguan mental yang serius. Terutama penggunaan istilah ini bersangkutan dengan pantas tidaknya seseorang yang melakukan tindak pidana dihukum atau tidak.
ANALISIS
Landa
berusia 25 tahun telah menjalani hubungan perkawinan selama hampir 2 tahun.
Landa selalu merasa ketakutan dan kekhawatiran yang mendalam bila bersama
suaminya. Hal ini tidak terlalu dirasakannya ketika ia bersama orang lain.
Suami subjek merupakan figur suami yang otoriter dan overprotekstif. Subjek
selalu merasa disalahkan atas setiap hal yang dilakukannya. Subjek merasa tidak
berani memberikan pendapat kepada suaminya. Subjek merasa tidak bahagia dengan
kehidupan perkawinannya tersebut dan berniat untuk segera bercerai dengannya
tetapi subjek tidak mempunyai keberanian untuk melakukannya.
Dari contoh kasus di atas kita dapat mengidentifikasi
bahwa Landa termasuk dalam perilaku abnormal sebab Landa selalu merasa
ketakutan dan kekhawatiran yang berlebihan atau mendalam terhadap suaminya,
tetapi tidak terlalu dirasakannya dengan orang lain. Dalam hal ini permasalahan
yang dihadapi oleh Landa masuk pada kriteria abnormalitas yaitu tekanan batin
yang telah dipaparkan sebelumnya. Subjek merasa tertekan dengan suami yang
mempunyai sikap otoriter dan overprotekstif, sehingga membuat subjek tidak
berani untuk mengungkapkan pendapatnya, subjek selalu merasa apa yang ia
lakukan selalu salah. Hal ini jelas tidak tepat, karena seharusnya subjek harus
berani untuk memberikan pendapat terlebih pada suaminya sendiri karena pada
dasarnya setiap pendapat yang kita sampaikan tidak ada yang salah. Selain itu, kriteria
yang berikutnya yaitu gejala “salah sesuai” (maladjusment) yang di sebabkan
oleh ketidak efektifan individu dalam menghadapi, menangani atau melaksanakan
tuntutan dari lingkungan fisik. Ketidak efektifan individu dalam menghadapi dan
menangani suaminya yang mempunyai sikap otoriter dan overprotekstif sehingga
subjek merasa tidak bahagia dalam kehidupan perkawinannya dan berniat untuk
segera bercerai. Dalam hal ini, seharusnya subjek dapat lebih menyesuaikan diri
dengan sikap suaminya yang otoriter dan overprotektif karena sebelum menikah
subjek seharusnya dapat melihat atau mengetahui mengenai sikap suaminya
walaupun mungkin tidak banyak dan subjek tahu apa yang akan dilakukannya
setelah menikah dengan sikap suaminya tersebut, sehingga dapat menghadapi
ataupun menangani masalah yang terjadi dalam perkawinannya.
DAFTAR PUSTAKA
Jeffrey S. Nevid, Spenser A. Rathus, Berverly
Greene, Psikologi Abnormal, Edisi kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta, 2005.
Tristiadi Ardani Ardi , M. Si. Psi. 2011. Psikologi Abnormal. Bandung: Lubuk Agung
Wardani Indra Ratna kusuma, Hand Out Psikologi Umum II, Fakultas Mercu Buana Yogyakarta
Komentar
Posting Komentar